Contoh Cerita Yang Ejaannya Salah

Cinta Alam yang Tak Berbalas

Ini adalah cerita yang lama yang pernah terjadi di dalam hidupku, dan hingga aku tamat di muka bumi ini pun cerita ini terus saja berlanjut dan bahkan akan menjadi sesuatu yang sangat parah, cerita ini berkisah tentang keresahan hatiku atas apa yang ada di sekitarku, atas semua yang setiap harinya selalu berubah, berubah menjadi semakin buruk. Dari sekian banyak orang selalu saja ada bantahan terhadap kenyataan yang ada, kenyataan bahwa bumi ini akan terselamatkan, bahwa pemerintah akan segera memperbaiki semuanya, akan membimbing semua orang untuk melakukan sesuatu agar semua yang kuresahkan tidak benar-benar terjadi. Lalu aku terdiam di dalam pemikiranku yang malah semakin meresah, pikiranku meresahkan semua pemikiran orang-orang tentang cara mereka bergerak untuk menjadikan bumi jauh lebih baik setiap harinya. Menurutku tak perlu pemerintah atau bahkan orang-orang untuk melakukan itu semua, yang dibutuhkan adalah kita, yaitu diri kita sendiri atas kesadaran yang harus kita lakukan terhadap bumi ini, jika hanya terus menunggu maka kapan akan dimulainya perbenahan ini, semuanya tergantung atas diri masing-masing dalam menentukan sebuah pilihan serta tindakan yang terbaik untuk bumi dan kehidupan menusia.

Dulu ketika aku masih kecil aku sering kali melihat warna hijau menghias1 bumi, warna yang menyegarkan dan menenangkan hati, dan warna-warna itu tidak hanya dihiasi dengan coklatnya dahan-dahan yang kokoh tapi juga menghiaskan2 dengan para burung yang bertengger serta hewan lainnya yang harmonis membuat sarang, mereka hidup di dalam rumah yang sama, rumah yang memiliki makna besar bagi mereka serta bagi kita semua, tidak hanya pohon melainkan bumi ini. Bumi tempat semua makhluk hidup yang bernafas.

Jika pagi menjenguk malu-malu lewat tingginya pegunungan, dan menyelipi3 sinar mentari yang membuat tubuh terasa hangat oleh kuasa tanpa batasnya, maka saat itulah waktunya aku berlari4 di tengah-tengah pepohon5, bergerak pelan-pelan sembari menghirup segarnya udara yang ramah dengan kesegaran, melewati sungai yang dingin dan jernih, yang mampu melihatkan6 bebatuan indah berwarna warni, lalu sebuah air terjun bergemuruh merdu di ujung sungai, menghempasi bebatuan yang tak pernah mengeluh dan selalu setia menyambut semangat mereka, dan saat semua itu berjalan seperti biasanya maka terlihat7 indahnya warna melengkung yang menghiasi indahnya air terjun tadi, di sana pelangi bertengger malu-malu, dengan warnanya yang indah walau samar memperlihatkan jiwanya yang transparan.

Aku berhenti sejenak untuk mengambil nafas, untuk merasakan segar8 yang tidak akan pernah mau aku lepaskan begitu saja, dan dengan jalannya9 detik yang selalu sama, seekor kupu-kupu terbang melintasi wajahku, awalnya hanya satu kupu-kupu dengan warna merah hari, kemudian kupu-kupu yang lain pun ikut turut serta, kuning, hitam, abu-abu dengan corak yang beragam, mereka seperti menari bagaikan sekawanan pri10, mengitariku mengajak aku bergabung bersama mereka, lalu aku berputar dan bergerak maju sambil sesekali mengangkat tanganku pelan keatas. Kami pun menari bersama-sama seperti sepasang kekasih yang tidak akan pernah terpisahkan biar kiamat melanda dunia.

Ketika aku sudah mulai merasa lelah, aku berhenti menari, sekawanan kupu-kupu tadi pun mengerti dan mereka berpencar untuk mencari bunga-bunga yang akan mereka hinggapi, aku menghela nafas gembira, mencoba yakin11 apakah udara disekitarku masih terasa sama, aku tersenyum semuanya masih sama dan tidak pernah berubah. Aku pun berbaring perlahan di atas rerumputan sambil memejamkan mataku.

Kau tahu apa yang aku mimpikan?. Aku memimpikan semuanya, semua tentang hutan yang menurutku adalah jantung dari bumi, aku memimpikan tentang keindahannya, tentang setiap dari pohon-pohon yang rindang dan selalu ramah terhadap manusia, lalu tiba-tiba mimpi itu berubah memburuk, berubah menjadi sesuatu yang mengerikan, yang membuat aku tidak bisa berhenti untuk berlari ketakutan, aku melihat api, aku melihat pepohonan terbakar serta tumbang karena mansuia-manusia yang tidak pernah mengerti tentang pentingnya menjaga alam, aku ketakutan dan sembunyi12 di antara kobaran api dan mesin-mesin yang terus bergemuruh merusak setiap jengkal hutan yang ada di sekitarku. Dan aku terbangun dari gelapnya mimpiku, serta mendapati diriku masih berada di tempat yang sama, yang indah dan yang masih hijau dengan udara yang segar, aku menyapu wajah dan keringatku lalu bersyukur semua itu tidak benar-benar terjadi.

Tapi aku salah tentang semua itu, aku salah bahwa mengira mimpiku itu hanyalah sebuah bunga tidur yang tidak perlu aku risaukan, dan ketika aku menyusuri jalan setapak yang lembab dan menerobos rerumputan tinggi yang menutupi semuanya dari pandanganku, aku melihat kenyataan tergambar jelas di hadapanku. Mesin-mesin itu bergemuruh di antara pepohonan yang tumbang, yang terpotong mengerikan, aku terduduk di depan semak sambil menatap kearah halaman luas yang gersang, yang tidak lagi dihiasi dengan hijaunya kesegaran alam, aku melihat kematian dan kiamat atas bumi ini.

Aku berucap dalam hati. Ternyata mimpiku itu adalah kebenaran. Aku bangkit sambil berpaling kembali ke dalam hutan, aku memutuskan untuk kembali kerumahku yang berada di balik hutan itu, aku berlari melewati langkahku yang sebelumnya menyusurinya sambil berlari dengan air mata yang tertinggal setiap jejakku, aku menangis dan mulai resah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya di bumi ini, mungkin bumi ini akan tamat dan berakhir. Lalu bagaimana dengan generasi berikutnya?. Itu hal yang melintas di dalam benakku.

Karena aku semakin kencang berlari, aku tak melihat akar-akar yang membentang di hadapanku, aku tersangkut dan terjatuh dengan tubuh telentang di atas dedaunan kering. Rasa nyeri di kakiku memang terasa tapi tidak seperih perasaan hatiku yang terluka dengan apa yang baru saja kulihat tadi. Aku perlahan bangkit sambil melihat ke arah depan, mataku yang sedikit kabur mulai perlahan menjelas, ketika semuanya sudah terlihat jelas, aku terdiam dengan posisi terduduk di atas daunan13 kering, menekuk kedua kakiku dengan rangkulan kuat pada tanganku. Aku melihat sebuah harapan, sesuatu yang pantas di sebut harapan.

Dan dengan penuh semangat aku mencari ranting-ranting pohon yang sudah patah dari dahan-dahan, aku menggunakan ranting tadi untuk menggali tanah yang ada di depanku, aku menggali tanah untuk mengambil sebuah pohon muda yang hijau dan kecil. Aku melepas bajuku, membungkus bagian akar pohon tadi yang penuh dengan tanah, kupeluk erat kemudian berjalan dengan sedikit agak pelan untuk pulang menuju rumahku.

Sesampai di rumah aku tidak menunda waktu untuk mencari kaleng bekas sebagai pot penampung pohon muda yang kubawa, ku masukkin14 pohon muda tadi dengan hati-hati sambil sesekali kutambahkan tanah untuk menutupi akar-akarnya. Aku berharap masa depan itu masih ada. Kusimpan pohon muda tadi di gudang belakang rumahku lalu aku masuk ke rumah dengan langkah pelan agar Ayahku tidak memergokiku keluar rumah tanpa izinnya. Tapi langkahku itu terhenti ketika melewati ruang keluarga, saat itu Ayahku sedang menonton tv, dia menonton sebuah berita tentang bencana yang terjadi di berbagai belahan dunia, aku terkejut ketika menyaksikan itu semua, aku terkejut begitu banyak hal mengerikan terjadi di bumi ini. Dan aku mulai resah mungkinkan aku bisa memperbaiki bumi hanya dengan satu pohon muda yang kubawa tadi?. Aku benar-benar resah.

Malam setelah hari itu aku terus menangis, aku ketakutan tentang hal buruk yang akan terjadi pada bumi, lalu aku mulai menjernihkan pikiranku tentang sebuah kesimpulan mengapa alam menciptakan bencana untuk manusia. Dan aku menyimpulkan bahwa bukan alam yang ciptakan15 bencana itu akan tetapi manusialah yang telah menciptakan penderitaan atas diri mereka sendiri. Alam hanya berusaha untuk membuat bumi kembali seimbang, alam selalu berusahan menutupi kesalahan manusia dengan bencana yang memastikan agar bumi terus berputar dengan benar, agar bumi tidak berhenti dan akhirnya semua yang ada di dalamnya mati dan punah. Secara tidak kita sadari ternyata alam sangat mencintai manusia tapi mengapa manusia tidak melakukan hal yang sama terhadap alam?.

Suatu ketika akhirnya aku tumbuh dewasa, dan pohon muda yang kusimpan di gudang belakang rumahku sudah kutanam di samping rumahku, pohon itu tidak hanya berupa pohon muda yang kecil, melainkan sudah tumbuh dewasa dan besar dengan daunnya yang rindang dan akarnya yang menggantung. Aku berdiri di bawah pohon tadi, memegang batangnya yang kasar tapi menenangkan, aku merasakan bisikannya yang hampir tidak bisa kudengar, dia memintaku untuk mencarikannya teman-temannya yang lama sudah menghilang, dia memintaku untuk memberitahu semua orang agar semuanya juga membantu mencarikannya teman-teman yang indah dan hijau dan ketika aku membuka mataku dan menarik kembali telapak tanganku, aku bisa melihat dedauanan pohon tadi berguguran di sekitarku, pohon itu seakan bersedih, menangis karena kesepian hidup sendirian.

Ejaan yang salah :

No

Salah

Benar

1

Menghias Menghiasi

2

Menghiaskan Berhiaskan

3

Menyelipi Menyelipkan

4

Berlari Berlarian

5

Pepohon Pepohonan

6

Melihatkan Memperlihatkan

7

Terlihat Terlihatlah

8

Segar Kesegaran

9

Jalannya Berjalannya

10

Pri Peri

11

Yakin Meyakinkan

12

Sembunyi Bersembunyi

13

Daunan Dedaunan

14

Masukkin Masukkan

15

Ciptakan Menciptakan

Jangan lupa untuk meninggalkan jejak di CATATAN PENGUNJUNG

About these ads

saya cinta Indonesia

Ditulis dalam Artikel
2 comments on “Contoh Cerita Yang Ejaannya Salah
  1. dian mengatakan:

    terimakasih atas infonya. saya ijin take ya untuk tugas kuliah.boleh ?afwan ya.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

STATISTIK
  • 207,801 Kunjungan
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 133 pengikut lainnya.