Jakarta Kini, Bagaimana Nasibmu Nanti?

Jakarta sebentar lagi ulang tahun, tepatnya tanggal 22 Juni nanti. Tahun ini usianya menjelang 485 tahun. Relatif tua, tapi bukan yang tertua di Indonesia.

Masih ada Palembang yang dianggap kota tertua di Indonesia yang hari jadinya mengacu ke tanggal prasasti kerajaan Sriwijaya, yakni 16 Juni 692.

Selamat datang di Jakarta menjelang hari jadinya (doc pribadi)

Tua-tua keladi, makin tua makin menjadi. Pepatah yang berkonotasi negative tersebut rasanya tidak adil disematkan pada ibukota ini. Selalu ada sisi positif dari sebuah kota. Terlepas dari pro dan kontra tentang geliat atau pesonanya,  Jakarta sudah menjadi kota metropolitan yang juga sudah dikenal di lingkungan international.

Mari kita tengok sebentar tentang berbagai pemeringkatan kota di dunia.  Apapun tujuan dan metode pemeringkatannya, kita bisa belajar dari kota-kota lain. Apapun posisi dan prestasi jakarta dibanding kota lain, semuanya bisa menjadi bahan instropeksi – baik pemerintah maupun warganya –  bahan evaluasi, lalu dimaknai dan disikapi secara positif agar Jakarta lebih baik di masa datang.

Beberapa pemeringkatan kota adalah “Innovation Cities”, “Quality of Life of Cities”, “Green City”, “Smart City”, dan “Skyscraper Cities”. Berikut kota-kota yang masuk top ten untuk lima pemeringkatan untuk edisi tahun 2011, baik tingkat dunia maupun regional.

Tidak ada Jakarta pada 5 pemeringkatan dunia

Dimanakah Jakarta?

Jakarta tidak masuk top 100 dunia untuk pemerinkatan kota inovasi. Jakarta hanya masuk peringkat ke-64 dari 66 kota di wilayah Asia. Jakarta hanya lebih baik dari Dhaka dan Kalkuta. Untuk kualitas hidup, Jakarta menempati peringkat ke-141, atau masih kalah dengan Manila yang menempati posisi ke-128.   Posisi Jakarta tergolong lumayan untuk kota hijau, yakni disebut: “average“ bersama Bangkok, Beijing, Delhi, Guangzhou, Kuala Lumpur, Nanjing, Shanghai, dan Wuhan.  Untuk pemeringkatan smart cities, Jakarta masih belum dianggap. Jakarta baru mulai diperhitungkan untuk predikat “ Skyscraper Cities” yang mengukur ketinggian dari gedung-gedung yang tingginya lebih dari 90 meter.

Makin menjulang belum tentu hidup nyaman (doc pribadi)

Ibukota Harus Bagaimana?

Saya tidak memberikan solusi konkret tentang apa yang harus dilakukan pemerintah provisi atau warga Jakarta agar lebih baik nanti. Bukan apa-apa, sudah terlalu banyak yang memberikan idea tau program sampai saat ini. Namun, sebagai bahan pertimbangan, kita bisa mencermati berbagai indikator atau ukuran yang digunakan dalam pemeringkatan kota di dunia. Jika ingin sejajar dengan mereka, kita harus cemati ukuran-ukuran tersebut, lalu berupaya meningkatkan indikator tersebut agar lebih baik.

Mudah-mudahan  ukuran tersebut digunakan sebagai patokan atau tolok ukur pelaksanaan berbagai program di Jakarta. Jika indikator tersebut malah memburuk, artinya implementasi programnya tidak berhasil, kalau tidak bisa disebut gagal total. Berikut berbagai indikator yang digunakan dalam pemeringkatan kota di dunia.

Pemeringkatan “Quality of Life of Cities”  menggunakan 39 indikator yang dikelompokkan dalam 10 kategori, yaitu:

  1. Lingkungan sosial dan politik (stabilitas politik, kriminal, penegakaan hukum, dll)
  2. Lingkungan ekonomi (regulasi mata uang, layanan perbankan. dll)
  3. Lingkungan sosio-budaya (kebijakan sensor, pembatasan kebebasan individu, dll)
  4. Sanitasi dan kesehatan (layana n kesehatan, penyakit infeksi, saluran pembuangan, penanganan limbah, polusi air, dll)
  5. Pendidikan dan sekolah (standar dan ketersediaan sekolah international, dll)
  6. Pelayanan dan transportasi publik (listrik, air, transportasi publik, kemacetan, dll)
  7. Rekreasi (fasilitas restoran, bioskop, olahraga, dll)
  8. Barang konsumesi (ketersediaan makanan/jenis konsumsi sehari-hari, mobil, dll)
  9. Perumahan (hunian, peralatan rumah tangga, furniture, layanan pemeliharaan, dll)
  10. Lingkungan alam (iklim, bencana alam)

Jadi, jika Jakarta masih bermasalah dengan sepuluh kategori tersebut maka kita belum bisa menuntut kualitas hidup seperti kota-kota yang masuk peringkat dunia. Jakarta memang masih kurang menyenangkan untuk ditinggali. Ini pendapat relatif sih, tergantung kitanya dalam menyikap geliat di Jakarta. Lagian, siapa suruh datang ke Jakarta?

Salah satu isu lain yang sangat penting adalah masalah kualitas lingkungan hidup yang semakin memburuk. Kita mungkin terbiasa dengan semburan asap pekat dari angkutan umum. Banjir pun seolah kejadian rutin di ibukota. Gedung perkantoran dan hunian warganya pun semakin menjulang. Jalan-jalan pun bersilangan dan bertingkat-tingkat pula. Ciliwung masih saja berair hitam pekat dengan sampah-sampah yang mengambang di permukaannya. Ruang publik dan ruang hijau terbuka pun semakin sulit ditemui.

Saat hijau menyatu dengan pencemaran ciliwung (doc pribadi)

Fenomena penurunan kualitas lingkungan menjadi isu global, termasuk di kota-kota besar di dunia. Jika saat ini Jakarta tergolong biasa-biasa saja untuk peringkat kota hijau. Semoga ke depannya tidak tambah memburuk. Agar tidak menjadi mimpi buruk, tidak ada salahnya kita melihat indikator yang digunakan dalam pemeringkatan kota hijau, seperti terlihat pada gambar berikut, yang dikutip dari sini.

Indikator Green Citiy Indeks, adakah indikator yang baik untuk Jakarta?

Jika Anda menebak-nebak bagaimana kondisi jakarta untuk indikator tersebut, pertanyaan yang patut kita renungkan adalah: “Apakah hidup di Jakarta makin merana dan sengsara nantinya?”

Jangan lupa untuk meninggalkan jejak di CATATAN PENGUNJUNG

sumber : http://pena.gunadarma.ac.id

Iklan

saya cinta Indonesia

Ditulis dalam Artikel, Coret Cepret, TULISAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

STATISTIK
  • 265,990 Kunjungan