Kala Matahari Tenggelam di Bunaken dan Maitara

Jika kita berlibur ke pesisir laut, salah satu fenomena yang ditunggu adalah sunset. Apalagi jika waktu berkunjungnya selepas sore saat matahari mulai bergeser semakin rendah di arah barat. Keindahan semburat warna jingga atau kemerahan di garis horizon selalu membangkitkan suasana romantis, atau sekedar menghilangkan kejenuhan.

Namun tidak semua laut menyajikan sunset yang indah. Jikalau lokasinya memungkinkan pun tak selamanya sunset bisa terlihat jelas. Awan tebal bisa menghadang, apalagi jika langit diselimuti awan hitam menggantung, lalu turun hujan lebat. Buyar sudah harapan untuk melihat indahnya matahari tenggelam.

Berbeda dari biasanya, pada awalnya kami bertiga tidak berharap melihat sunset saat berkunjung ke Bunaken dan Ternate. Keindahan bawah laut dan pesona kota di kaki gunung Gamalama menjadi sasaran utama. Harapan tersebut terpenuhi  saat menyambangi dua tempat di Provinsi Sulawesi Utara dan Maluku Utara tersebut.

Syukur Alhamdulillah kami mendapat bonus tak terduga ketika sunset pun hadir di Bunaken dan Pulau Maitara. Pulau Maitara adalah pulang di samping pulau Tidore yang hanya berjarak lima menit saja dari Pulau Ternate dengan menumpang perahu cepat.

Keindahan Bawah dan Atas Bunaken

Soal keindahan bawah laut di Bunaken tidak perlu diragukan lagi. Ragam ikan kecil yang berlarian di antara karang warna-warni menjadi pemandangan luar-biasa. Tidak perlu mengandalkan lantai dasar perahu berkaca saja untuk menikmatinya. Mata telanjang pun bisa menerawang keindahan Bunaken.

Ada bonus lain yang kami dapatkan saat terombang-ambing perahu yang sengaja dihentikan di tengah laut Bunaken. Tiba-tiba ada gerakan di permukaan laut yang tidak biasanya. Tidak berapa lama, munculah sirip ikan besar yang disertai riak air yang cukup besar. Mula-mula kami menyangka itu ikan lumba-lumba. Namun tiga pemandu yang sekaligus sebagai pembawa perahu menyangsikannya. Katanya, itu ikan paus. Entah benar atau tidak, kami pun hanya menganga saja melihat ukuran besarnya.

Selepas menikmati keindahan bawah laut, perhatian kami mulai diarahkan ke pergerakan sang surya. Lambat laun matahari itupun mulai turun. Warna langit mulai berubah merah dan jingga yang terpantul di gumpalan awan tebal. Walaupun sunset tidak sempurna, kami tetap bisa menikmati lukisan indah yang tersaji di atas laut Bunaken.

Matahari Tenggelam di Maitara

Saya tidak tahu sama sekali sebelumnya tentang Pulau Maitara. Ternyata keindahan pulau itu diabadikan dalam uang kertas Rp 1000 yang diterbitkan pertama kali pada tahun 2000. Gambar di bagian depan uang tersebut adalah Panglima Patimura. Coba tengok gambar di bagian belakangnya. Di situ terlihat dua gunung berdekatan di latar belakang, dengan dua orang nelayan di atas perahu di atas laut terlihat jelas di latar depan. Ya, dua pulau itu adalah pulau Maitara dan Tidore. Saat kami mendekat kedua pulau itu, kota Ternate terlihat di kejauhan.

Pulau Maitara dan Pulau Tidore tidak terlalu jauh dari pulau Ternate. Bahkan dari pesisir kota Ternate, kedua pulau tersebut terlihat jelas. Cukup lima menit saja dengan perahu cepat yang melaju dari Pelabuhan Bastiong di pulau Ternate menuju Pelabuhan Rum di pulau Tidore.

Menjelang petang kami bergerak ke Pelabuhan Bastiong, pelabuhan utama yang paling dekat dengan pulau Tidore. Pelabuhan tersebut terlihat masih penuh sesak dengan ferry dan kapal kecil yang tertambat di dermaga. Suasana pelabuhan terlihat ramai dengan berbaurnya pedagang dan penumpang. Para calo dan pemilik kapal kecil pun saling menawarkan perahunya untuk membawa penumpang ke pulau Tidore.

Akhirnya Kami tiba di pesisir pulau Tidore saat matahari mulai terbenam. Pemandangan indah pun tersaji di depan mata.

Begitulah keindahan sang surya saat terbenam di haribaan malam. Pemandangan luarbiasa tersebut menjadi pengusir penat selama menempuh perjalanan panjang namun singkat. Agenda padat selama tiga hari berkunjung ke Manado dan Ternate pun tidak menyisakan kebosanan.

Jangan lupa untuk meninggalkan jejak di CATATAN PENGUNJUNG

sumber : http://pena.gunadarma.ac.id

Iklan

saya cinta Indonesia

Ditulis dalam Artikel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

STATISTIK
  • 274,420 Kunjungan