Steve Jobs : Success is in the Details

“Steve’s level of focus on details is one of the most crucial aspects of his success and the success of his products”,

Jay Eliott – former Senior Vice President of Apple.

Seluruh media saat ini penuh dengan pemberitaan meninggalnya Steve Jobs dan kemudian mengulas mengenai kesuksesan tokoh fenomenal ini. Memang tidak ada satu tokoh yang kepergiannya begitu diratapi oleh banyak orang di belahan bumi ini. Steve Jobs memang fenomenal, setiap tahun banyak orang menanti apa lagi inovasi terbaru dari Apple. Begitu produk baru diluncurkan, semua pada berebut menjadi yang pertama untuk memiliki produk terbaru dari Apple.

Passion for the Product

“Dan seperti semua pemimpin hebat yang saya pernah temui dan kerja bersama, Steve memiliki fokus yang unik dan hampir tidak masuk akal – fokus yang membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik. Obsesi dia adalah gairahnya pada suatu produk .. gairahnya pada kesempurnaan suatu produk” (“And like  all the great leaders I’d met and worked with, he had his own personal, nearly irrational focus – but it’s one that has made the world a better place. His obsession is a passion for the product … a passion for product perfection.”) – Jay Eliott

* Dari Mouse menuju Masa Depan Komputer – Macintosh

“Apa yang mengesankan bagi saya adalah pertanyaan-pertanyaan yang diajukan lebih baik daripada pertanyaan yang pernah saya dengar selama tujuh tahun saya bekerja di Xerox. Dari siapapun – karyawan Xerox, pengunjung, profesor universitas, mahasiswa. Pertanyaan yang diajukan Steve dan team menunjukkan mereka memahami semua implikasi, dan mereka juga memahami kepelikan yang ada di dalamnya. Tak seorangpun yang pernah melihat demo mouse ini begitu memperhatikan hal-hal kecil, kenapa begini kenapa begitu…”

Itulah ucapan Larry Tessler, ilmuwan di PARC (Palo Alto Research Center). Xerox mengumpulkan team ahli kaliber dunia dan membentuk  PARC dengan dikepalai oleh Dr. George Pako di tahun 1970. Visinya PARC sebagai “The Office of the Future”, tapi ironisnya temuan mengenai mouse ini tidak mendapatkan sambutan yang selayak temuan fenomenal lain dari PARC ini seperti laser printing dan lain-lain. Stevelah yang mampu melihat bagaimana mouse ini menjadi salah satu bagian yang  terpenting dalam masa depan komputer. Tidak heran kemudian Tessler kemudian memutuskan bergabung dengan Apple tidak lama setelah itu. Bagi seorang ilmuwan, mendapatkan seseorang yang begitu menghargai hasil kontribusinya seperti mungkin mendapatkan pasangan yang ideal, bukan ?

Steve bukan hanya seorang tokoh yang visionaris, tapi dia juga mampu menghubungkan titik titik bagaimana visinya bisa menjadi kenyataan. Dalam artikel terdahulu dia mengatakan bahwa bagaimana mengikuti kelas tipografi (kelas yang mengajarkan bagaimana membuat huruf2 alfabet secara indah) akhirnya menjadi komponen penting dalam produk terbaru Apple, Macintosh. Begitu juga Mouse. Titik-titik yang saling mengisi.

* Dipecat karena turut campur terlalu dalam

Disaat teori management selalu mengkritisi top management yang merecoki kerjaan anak buahnya, istilah kerennya micromanage, Steve selalu turut campur.

Bagi Steve, Lisa, produk terbaru yang mengambil dari nama anak pertamanya, adalah produk terobosan. Dengan menambahkan apa yang dilihat di PARC akan membuat produk tersebut menjadi lebih fenomenal. “It will make a dent in the universe”, begitu katanya. Tapi apa yang terjadi, team Lisa seperti dijauhkan dari Steve. Usulan Steve untuk merubah Apple Lisa, dianggap akan menambah lama produk Lisa diluncurkan ke pasar. Apalagi saat itu persiapan tim ini sudah berjalan 2 tahun. Menunda lagi peluncuran produk merupakan hal yang tidak dapat diterima oleh Mike Markkula dan Michael Scott, pucuk pimpinan Apple saat itu. Bahkan John Couch, kepala tim Lisa, meminta Steve untuk datang ke tim tersebut dan mengacak-acak apa yang sedang mereka persiapkan. “Sudah duduk manis saja sebagai Board Chairman, biarkan kami bekerja,” begitu mungkin pesan mereka.

Gambar : Apple Lisa

Apakah Steve tinggal diam saja ? Tidak.

Ketika pintu tertutup baginya untuk ke tim Lisa. Steve mengalihkan perhatiannya pada group lain yang saat itu sedang mempersiapkan komputer yang direncanakan untuk menciptakan komputer yang murah, mudah digunakan dan diproduksi secara masal. Produk itu dinamakan Macintosh. Stevepun menjual idenya ke tim ini dan ujungnya tim ini termotivasi untuk menciptakan produk sesuai dengan harapan Steve.

Semua tentu tahu akhir ceritanya. Apple Macintosh sukses besar sedangkan Apple Lisa I merupakan kegagalan terbesar Apple setelah Apple III. Lisa dijual dengan harga mendekati 10.000 dollar terlalu mahal sedangkan Macintosh harganya jauh lebih terjangkau, belum lagi kecepatan proses Macintosh juga lebih unggul. Kedua tim ini kemudian dilebur dan kemudian menggunakan nama produk Macintosh, sendangkan Apple dengan brand Lisa tidak diproduksi lagi.

 

Jangan lupa untuk meninggalkan jejak di CATATAN PENGUNJUNG

sumber : duniasains.com

Iklan

saya cinta Indonesia

Ditulis dalam Artikel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

STATISTIK
  • 265,990 Kunjungan