Langit Dijunjung Bumi Dipijak di Bandara

Keragaman budaya di Indonesia bisa dilihat sekilas dari bandar udara. Memang  itu hanya berlaku bagi daerah yang mempunyai lapangan terbang.  Namun, setiap provinsi di Indonesia pasti sudah mempunyai bandara di ibukotanya. Saat penumpang datang dan pergi, budaya lokal pun sering terpajang di bandara. Ornamen atau bentuk bangunan pun menghiasinya.

Bandara: Simbol budaya atau modernisasi?

Reklame raksasa di Bandara Sultan Iskandar Muda

Bandara bak etalase yang bisa menjadi alat promosi daerah. Bandara pun dianggap sebagai gerbang utama yang bisa membentuk kesan pertama tentang sebuah kota atau daerah. Tidak mengherankan jika kita sering melihat berbagai ornamen, display, papan reklame, atau bentuk media promosi lainnya bertebaran di sekitar bandara.

Lorong saat sepi di badara Sultan Badaruddin Palembang (doc pribadi)

Lorong saat sepi di Bandara Palembang

Satu lorong di gerbang ibukota negara

Kesan baik atau buruk kadang terbersit saat pertama kali mendatangi kota atau daerah melalui bandaranya. Sering kita berdecak kagum dengan gaya arsitektur sebuah bandara. Namun, kekaguman tersebut tidak lantas membuat kita mengenal lebih dalam sebuah budaya lokal. Bahkan, apa nama atau makna sebuah simbol budaya di bandara pun kita tidak mengenalnya, atau setidaknya sudah melupakannya. Simbol-simbol budaya itu akhirnya memang sebatas pajangan dan hiasan belaka.

Lihatlah simbol rumah adat di Bandara Sepinggan Balikpapan

Ini Medan, Bung!

Posisi bandara yang dianggap penting membuat semua kota dan daerah berlomba-lomba untuk  memiliki bandara yang megah dan indah. Megah dan indah tidak harus besar dan luas. kesederhanaan pun bisa membuat kita terpana. Kecil pun bisa menarik. Ya, semua demi kebanggaan daerahnya. Namun, kebanggaan saja tidaklah cukup. Justru bisa jadi malah ada ironi di sana.

Ngurah Rai bebenah demi siapa?

Saat wisatawan berduyun-duyun datang karena daya tarik sebuah kota, apakah mereka hanya menikmati budaya sebagai sebuah tontonan belaka? Atau, jangan-jangan, bandara adalah gerbang modernisasi yang bisa menggerus budaya lokal. Prilaku dan gaya hidup wisatawan pun mulai menginfiltrasi budaya lokal.

Gerbang megah di Indonesia timur

Kapal Phinisi, semoga tidak tinggal pajangan di bandara

Fungsi bandara sebagai etalase tampaknya berhasil dalam mendatangkan gelimang uang. Namun, saat pendatang datang, apakah masih berlaku pepatah: “Di mana langit dijunjung, di situ bumi dipijak“?

Jangan lupa untuk meninggalkan jejak di CATATAN PENGUNJUNG

Sumber : http://arsitektur.blog.gunadarma.ac.id/

Iklan

saya cinta Indonesia

Ditulis dalam Artikel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

STATISTIK
  • 282,078 Kunjungan