Manusia mengendalikan robot atau malah bisa sebaliknya?

imagesTerinspirasi dari film-film Hollywood, seperti Terminator,  Transformer dan Little Soldier. Berbagai robot super canggih berlaga dalam film-film imajinatif produksi Hollywood tersebut, membuat kita semua mungkin membayangkan bagaimana robot-robot yang sedemikian rupa dirancang oleh manusia mengalami lepas kontrol atau salah program dalam pembuatannya.

Di era kemajuan teknologi robot secara global, berbagai negara-negara maju membuat pertahanan militer mereka dengan mengandalkan robot-robot yang dapat menggantikan posisi tentara manusia di medan perang. Hal ini juga didukung dengan kemajuan perangkat keras khususnya mikroprosessor dan mikrokontroller turut serta mengambil bagian dalam teknologi robot.  Mikroprosessor yang menjadi bagian terpenting dalam teknologi robot, membuat robot tidak hanya dapat berjalan, tetapi sudah bisa membuat suatu ungkapan ekspresi seperti tersenyum, tertawa, sedih bahkan sampai melakukan pekerjaan yang kompleks sekalipun.jRtNZxs8wb4Sa-300x295

Apa yang terjadi di film Terminator, Transformer dan Little Soldier ternyata dapat terelasisasi di medan pertempuran saat ini. Itu artinya, baku tembak di pertempuran bisa digantikan oleh robot, seiring meningkatnya protes banyaknya tentara manusia yang tewas di medan laga.

Diperkirakan, perang di masa depan akan lebih banyak dimainkan oleh robot-robot berteknologi tinggi. Tujuan utamanya untuk meminimalisir jumlah korban prajurit yang bertempur. Kini, sekitar 8.000 robot telah diterjunkan di medan perang. Mereka dipercaya akan membawa misi revolusi militer. Sebagian besar robot kini diterjunkan ke darat dengan tugas non-tempur seperti penjinakkan bom dan pesawat tanpa awak.

Seperti dikutip dari BBC, di masa depan sangat menjanjikan penggunaan lebih banyak tentara robot di medan tempur, termasuk kendaraan perang tanpa awak manusia.  Semakin dekat, Anda akan ditembak.  Inilah kelebihan robot yang mampu dikendalikan dari jarak jauh.

Sekarang pertanyaannya bagaimana jika robot tersebut menyerang target yang tidak seharusnya dan melanggar hukum perang? Akademisi Amerika Serikat Patrick Lin yang bekerja untuk membuat etika robot untuk militer, mengungkapkan, robot dapat diprogram untuk mengikuti standard tertentu.

Namun, bisakah komputer kita melakukan program ulang jika terjadi suatu kesalahan pada program awal?

Saat ini, Amerika Serikat (AS) telah menggunakan robot-robot canggih di pertempuran, baik itu di Irak maupun di Afghanistan.
Robot – robot ataupun instrumen militer yang dibuat tentunya lebih efektif dibandingkan tentara manusia, mereka tidak ragu dalam menembakan peluru, rudal maupun misil ke arah orang dewasa maupun anak – anak. Tidak ada perasaan yang dilibatkan hanya perintah dan kode – kode instruksi yang  dijalankan dalam bentuk bit – bit oleh mikroprosessor, 100% efektif.

Seperti halnya sistem pertahanan artileri otomatis yang diterapkan di Afghanistan. “Sistem tersebut akan menembak jika ditembak. Kita tidak dapat menghentikannya, kita hanya dapat mengaktifkannya.”

Penggunaan robot untuk keperluan militer di berbagi negara maju seperti Amerika Serikat, memang bukan sekedar wacana semata, namun hal ini telah mereka realisasikan dalam membuat sebuah alat perang yang tidak mungkin menolak perintah dan tidak ragu dalam mengerjakan misi tentunya menjadi impian para petinggi militer di negara manapun juga.

Jika tadi kehadiran robot – robot militer dilihat dari sudut pandang yang menguntungkan, tetap saja robot – robot militer tersebut tetap memiliki tujuan yang sama dengan tentara manusia yaitu sebagai alat yang digunakan untuk menghancurkan musuh. Tetap saja sasaran – sasaran yang dihancurkan sama, jika tidak perangkat militer, bangunan pasti manusia. Hal – hal inilah yang mungkin membuat beberapa peneliti / pengembang tidak setuju penggunaan robot dalam militer.

Sekali lagi ada banyak hal penting yang perlu diperhatikan dan diwaspadai dengan semakin maraknya penggunaan robot di bidang militer. Karena biar bagaimanapun, robot merupakan sebuah benda yang diberi kecerdasan buatan, yang menjalankan tugas sesuai dengan program yang telah diinstruksikan kepadanya yang tidak memiliki perasaan dan hati nurani layaknya manusia. Robot yang merupakan teknologi buatan manusia bisa saja menjadi pedang bermata dua termasuk tuaannya sendiri. Maka dari itu, manusia perlu melakukan antisipasi dari teknologi robot itu sendiri. Jangan sampai manusia yang awalnya mengendalikan robot malah menjadi sebaliknya???

Informasi diperoleh dari berbagai sumber ditambah dengan opini dari penulis.

 

 

Jangan lupa untuk meninggalkan jejak di CATATAN PENGUNJUNG

Sumber : blogaanwati.wordpress.com,  http://robotika.blog.gunadarma.ac.id/

saya cinta Indonesia

Ditulis dalam Artikel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

STATISTIK
  • 255,135 Kunjungan